Rabu, 06 November 2013

Beruntungnya Aku :)

Adalah aku.
Aku yang terus-terusan berpikir bahwa sedang beruntung, entah berapa kali lipat karena sudah diberi kesempatan untuk merasakan bahagia dengan kamu.

Sering.
Teramat sering sosok aku ini pesimis.
Pesimis jika nantinya bukan aku, bukan aku sosok yang kamu impikan untuk menjadi seorang pendamping. Pendamping hidup, dan pendamping rentamu nanti.

Entah.
Entah apa yang ada di pikiran kamu tentang aku, yang mungkin dan sangat mungkin punya banyak kekurangan yang sama sekali tidak pantas kamu banggakan.

Aku ini adalah sosok egois.
Yang sama sekali tidak ada keinginan membagi kamu dengan yang lain.
Panggil aku ini bodoh, jika memilih hidup bahagia, tapi bukan dengan kamu.

Aku ini adalah sosok yang ke-kamu-kamu-an.
Yang sama sekali tidak menyesal memperjuangkan segalanya tentang kamu.
Panggil aku ini bodoh, jika sedang berjuang, tapi bukan memperjuangkan kamu.

Aku punya beberapa lembaran lama tentang hidup, yang banyak mengajariku banyak hal, terutama tentang cinta. Bahwa sebenar-benarnya cinta adalah memiliki. Dan hati yang mungkin tidak sengaja patah, adalah resiko terbesarnya. 

Aku suka skenario Tuhan mempertemukan kita.
Aku di mana, kamu di mana. Tuhan memang Maha Bisa.
Mendekatkan kita yang awalnya jauh, tentu bukan satu hal yang sulit.

Aku suka cara kita melipat jarak.
Aku di mana, kamu di mana.
Jarak itu jelas, ada, dan pekat rasanya.
Tapi hebatnya kita, sama sekali tidak menganggapnya ada.

Beruntungnya aku.


*Sumber : http://www.misteeerius.net/blog.html

Jatuh Cinta Diam-Diam

Jatuh cinta diam-diam kayaknya udah jadi kebiasaan para pejatuh cinta sebelum mereka bener-bener jadian. Ya syukur kalo ujung-ujungnya jadian, kalo enggak itu loh yang kasian.

Kenapa seorang pejatuh cinta kebanyakan betah memendam perasaannya?
Alasannya klasik sih.

Kalo cewek, dia masih kalah sama gengsi. Bagi mereka; “Ah, masa iya cewek duluan yang ngomong, gila amat.” Dan kalo cowok, kebanyakan kurang tegas sama apa yang dia rasain. Kebanyakan gini; “Ngomong nggak ya.. Kalo gue ngomong takut ditolak mentah-mentah, kalo gue nggak ngomong disangka nggak gentle.”

Banyak aspek yang menjadikan jatuh cinta diam-diam populer di kehidupan percintaan remaja kini. Padahal mereka juga ngerti kalo nahan rasa jatuh cinta itu susah, nggak bisa, bahkan nyakitin. Tapi kenapa masih dilakuin? Itu yang bikin SBY prihatin.

Oke, itu tadi nggak nyambung.

Menurut gue..
Jatuh cinta itu sama kayak batuk. Susah ditahannya.

Tapi analogi ini bukan berarti obat batuk laku keras? Enggak.. Enggak. Nggak ada hubungannya sama itu. Mentang-mentang para pejatuh cinta sekarang banyak, terus obat batuk bakal banyak kebeli juga? Nggak loh ya. Takutnya setelah baca ini kalian pindah haluan jadi penjual obat batuk, jangan.

Well~

Kalo emang cinta ya bilang aja cinta. Kalo emang sayang ya bilang aja sayang. Nggak perlu pura-pura, nggak perlu ditunda. Karena pura-pura tak jatuh cinta mengartikan dia sudah merasakan setengahnya sakit hati.

*Sumber : http://www.misteeerius.net/blog.html