Rabu, 30 Oktober 2013

Dan Kepadamu, Logika

Hei, kamu. Masih berada di kepala itu?
Pantas saja, kau sombong sekali.
Jangan karena posisimu lebih tinggi daripadaku,
Kau bisa seenak hatimu begitu.
Tunggu, kamu tidak punya hati.

Kau benar, dia mantanku.

Yang pernah membawaku melesat ke awang-awang.
Yang pernah memberiku milyaran harapan,
Lalu menyakitiku begitu dalam.

Hei, ada apa denganmu?
Diam sajalah, berhenti berkomentar.
Aku baik-baik saja.
Tanpa luka ini pun aku memang terlahir rapuh.
Tidak sepertimu.
Tapi apa pedulimu?!

Kau ingin tahu mengapa aku tidak pernah mengajakmu bermain?
Kau sungguh ingin tahu? Baiklah.
Kamu itu kaku, sungguh.
Sombong, angkuh, merasa paling benar.

Kita memang beda.
Kamu benar, tapi aku juga tidak salah.
Terkadang, kita memang harus jatuh dan terluka,
Lalu bangkit lagi, dan terluka lagi.
Dengan begitu kita akan lebih kuat jika suatu saat harus terjatuh lagi.

Kamu tidak mengerti?
Wajar, kamu memang tidak pernah jatuh.
Karena itulah, aku tidak ingin bermain denganmu.

Kita bertemu lain kali saja, ya?
Ketika kita sudah sejajar.
Kamu yang merendah,
atau aku yang menaiki tangga untuk sampai kepadamu.

Tunggu, aku tidak punya tangga.
Baiklah, lain kali saja.


Dari Aku, hati yang berada di bawahmu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar