Rabu, 30 Oktober 2013

Untuk Kamu, Mantan Pacarku.

Hei kamu. Iya, kamu. Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja. Akupun begitu, meski aku tahu kamu tidak akan menanyakan kabarku. Bagaimana pekerjaanmu? Lancar-lancar sajakah? Masihkah kamu telat makan? Dulu aku yang sering mengingatkanmu untuk makan, meski hanya lewat pesan SMS. Karena dulu kita jauh; kamu di Jakarta, aku di Bogor. Orang bilang itu LDR; Long Distance Relationship. Hubungan dimana kita hanya bisa memeluk lewat doa, dan mengecup lewat gambar. Sedih ya? Tapi kamu pasti sekarang sudah tidak sedih lagi. Sudah ada dia di sampingmu. Hei, mengapa kamu terbelalak seperti itu? Apa kamu heran aku sudah mengetahui hal itu? Aku sudah tahu. Dia yang di sampingmu sekarang pasti lebih baik, lebih sabar dan lebih cantik dariku. Lihatlah, dia tersipu malu. Tidak mengapa. Sebelum lupa, aku ingin bilang kalau untuk itulah aku menulis surat ini. Tidak usah khawatir aku akan marah jika ia ikut membaca juga. Bukan masalah yang besar, tapi terima kasih sudah memikirkan perasaanku.

Hei kamu yang dulu sering menggenggam tanganku, pasti kamu sekarang bertanya-tanya mengapa aku bisa mengetahui hubungan kalian, bukan? Kalau tidak bertanya pun tidak apa-apa, aku akan tetap menceritakannya. Aku tahu, kalian sudah saling mengenal lama. Kamu mengenalnya karena ia teman sekelasmu. Kalian dekat semenjak masuk kuliah dulu. Aku tahu itu, kamu dulu pernah menceritakannya. Kalau aku tidak salah, dia perempuan yang sering meledek pipimu itu. Ya, kamu lelaki berpipi lucu, chubby macam perempuan. Pipi yang dulu sering kucubit saking gemasnya ternyata memancing orang lain untuk mencubitnya juga ya? Lalu kamu membalasnya dengan meledek poninya, aku tahu itu dari dinding facebookmu. Dia punya poni seperti Widi Vierra, tapi kamu meledeknya dengan poni anak kelas 5 SD. Aku tertawa geli saat itu, sedikit kesal karena poniku juga sebenarnya sama dengannya; poni anak kelas 5 SD. Tapi kamu pasti tidak tahu, karena aku berjilbab, Sayang. Hei, apa barusan kamu tertawa? Karena mengetahui poniku atau karena aku memanggilmu Sayang?

Aku juga tahu, setelah proses ledek-meledek itu, kalian mulai semakin dekat. Dia yang baru saja putus hubungan dengan mantan pacarnya sering curhat padamu, bukan? Aku pernah membaca salah satu pesan SMS darinya di ponselmu sewaktu kita bertemu di rumahku. Malam itu kamu tampan sekali. Kamu membawa martabak keju kesukaanku. Sudah menjadi kebiasaanmu mengotak-atik ponselku tiap kita bertemu; melihat playlistku, melihat foto-fotoku dan mungkin membaca pesan masuk juga. Akupun begitu; senang melihat playlistmu, melihat foto-fotomu dan membaca pesan masukmu. Malam itu aku juga melihat pesan darinya. Dia sedih karena melihat timeline twitter mantannya. Saat itu aku hanya tersenyum karena mengetahui kamu tetaplah lelaki yang baik; yang tidak pernah menolak mendengarkan keluh kesah orang lain. Di saat yang sama akupun bangga memiliki lelaki sepertimu, walau tanpa kusangka kebanggaanku itulah yang menghantarkanmu ke gerbang kenyamanan dengan orang lain, dengan dia tepatnya.

Sayang, tahukah kamu sebulan sebelum hubungan kita berakhir, aku sudah memiliki firasat itu? Saat itu, kamu mulai berubah. Kamu mulai jarang menghubungiku, jarang meneleponku bahkan kamu jarang membalas pesanku. Aku yang berusaha sabarpun ternyata tetap memiliki rasa penasaran, Sayang. Aku mulai mencari tahu kabarmu lewat akun facebook dan twittermu, tapi kamu menghilang seperti ditelan bumi. Aku mulai berprasangka yang bukan-bukan, tapi langsung kutepis karena kamu bukan lelaki yang suka jika aku berpikiran negatif tentangmu. Aku menghindari sekali berpikir tidak jelas khas perempuan gemini; yang memiliki ‘anak kembar’ di otaknya. Tidak baik jika aku membiarkan ‘anak kembar itu’ mengambil alih cara berpikirku, itu menurutmu. Dan aku menurutimu. Aku mengiyakan saja semua kata-katamu karena kepercayaan adalah modal suatu hubungan, katamu lagi. Aku percaya itu, karena kamu sudah mengatakannya di awal hubungan kita, jauh sebelum dia datang.

Firasat buruk itu semakin menguat pada dua minggu terakhir kebersamaan kita. Kamu benar-benar menghilang dari hidupku, menjauhiku layaknya orang asing. Kamu pulang ke Bogor, ke rumah orang tuamu, tetapi kamu tidak menemuiku. Aku yang mulai putus asa dengan hubungan ini akhirnya memutuskan untuk menemuimu lebih dulu. Kamu yang sedang tertawa di telepon hanya heran menatap kehadiranku di rumah orang tuamu. Masih jelas kuingat kata-katamu saat itu, bahwa mungkin kita sudah tidak sejalan lagi. Bahwa kamu mulai pesimis terhadap hubungan jarak jauh kita, bahwa kamu mulai muak menghadapi kelakuan childishku. Tangisku pecah saat mendengar kata itu, muak. Apa kamu sungguh harus menggunakan kata yang sekasar itu padaku? Akupun pulang dengan hati kecewa, Sayang. Putus dan mendengar kalimat kasarmu bukanlah akhir yang kuinginkan dari cerita indah kita. Kita dulu memulainya dengan manis dua tahun lalu, dan apakah kita harus mengakhirinya dengan cara semenyakitkan ini?

Dan dua minggu setelah hubungan kita berakhir, kamu menyatakan cinta padanya. Aku tahu dari timeline twitternya, Sayang. Rupanya hanya butuh waktu yang sebentar untukmu mencari penggantiku. Tentu saja, kamu sudah memilikinya jauh sebelum itu, juga menyadari keberadaannya jauh lebih lama dari yang kutahu. Kalian sungguh pasangan yang serasi. Kamu dan dia sama-sama menginginkan pasangan yang tidak hanya sebagai pasangan, tetapi juga sebagai teman, bukan? Sedang aku adalah perempuan yang sensitif, serius dan kaku. Lelaki itu, mantan pacar kekasihmu, juga sepertiku, aku melihatnya melalui timeline twitternya dan curhatan kekasihmu dulu. Cinta akan menemukan pasangan yang sejalan dengannya dan menyisihkan yang tidak sejalan, aku percaya itu. Aku dan lelaki itu, sekarang sedang sama-sama menunggu dipertemukan dengan yang sejalan oleh cinta yang juga mempertemukan kalian.

Hei, kenapa matamu terbelalak seperti itu? Bukan kamu, Sayang. Tetapi kekasihmu. Apa kamu heran aku masih begitu mengingat detil tentang kekasihmu? Kamu tidak perlu khawatir, cantik. Aku mengikhlaskan kalian, sungguh. Hei cantik, rileks. Mengapa alismu masih mengeryit begitu? Kamu pasti heran kenapa aku bisa persis membaca pikiranmu. Aku juga perempuan, cantik. Sama sepertimu. Bukankah kami, para perempuan, punya radar canggih yang akan berbunyi nyaring ketika ada perempuan lain yang juga menyimpan rasa yang sama kepada pasangan kami. Lagi-lagi aku harus mengatakan, aku bukan perempuan yang patut kau khawatirkan akan merebut kembali pasanganmu. Aku turut berbahagia melihat kebahagiaan kalian sekarang, yang sepertinya jauh lebih bahagia jika dibandingkan dengan saat bersamaku.

Tidak ada tujuan lain yang menggerakkan jemariku menuliskan surat ini, selain ingin mengucapkan selamat. Selamat untukmu, Sayang, telah menemukan dia yang kaumau. Jaga hatinya, jangan kausakiti dia seperti dulu kau pernah menyakitiku. Aku sudah memaafkan perbuatanmu, mungkin itu bagian yang Tuhan berikan untukku. Selamat juga untukmu, cantik. Kamu memang pantas mendampingi lelaki hebat seperti dia yang sekarang ada di sampingmu, orang yang sama yang pernah ada di sampingku dulu. Melalui surat ini juga aku ingin memberi tahu. Tepat delapan bulan setelah kepergianmu, ada lelaki sederhana yang melamarku melalui ayahku. Dia memang tidak romantis sepertimu, juga tidak sehumoris dirimu. Tapi dia bisa membuatku tenang hanya karena melihat senyumnya. Dia, yang sekarang memasangkan cincin di jari manisku, tidak menawarkan janji seindah dirimu, tetapi dia memberikan keyakinan. Bahwa jika keadaan menjadi sulit, dialah orang pertama yang bisa kuhubungi, yang bisa meminjamkan bahunya untuk kujatuhi air mata. Cinta memang tidak seindah dongeng, begitu katanya. Tetapi cinta bisa tetap indah karena ada dua orang yang saling berjanji untuk membuat dongengnya sendiri sampai waktu memisahkan.


Dari perempuan yang mencintaimu sampai kehilangan dirinya sendiri,
dulu.


1 komentar:

  1. Hei, terimakasih banyak sudah repost. Saya El, salam kenal Kiki :)

    BalasHapus